Perjalanan Mencari Aku
/1/
Oktober 1942, hidup dengan penerimaan
takdir, berarti menerima juga takdir kematian. Tidak ada yang perlu
dilakukan selain penerimaan, -keridlaan-. Berarti tidak ada perlawanan,
konfrontasi diakhiri, dalam segala keterbatasan akhirnya sepi takdir
harus juga diterima dalam suasana getir.
Nisan, /bukan kematian benar menusuk kalbu/ keridlaanmu menerima segala tiba/
Begitulah Chairil anwar, atau lebih
tepatnya segi lain Chairil. Bukan Chairil yang meledak-ledak, bukan
Chairil yang penuh perlawanan, bukan Chairil yang penuh kepercayaan pada
diri, mengengam dunia dalam kepalan tangannya. Sambil tetap menghisap
rokok, dengan ekspresi muka yang sinis.
Barangkali hidup memang belum seutuhnya
sempurna. Sang aku belum juga ditemukan dalam ketuntasan bentuk
identitas. Tapi nada-nada perlawanan mulai terdengar: sayup-sayup.
Ketegangan manusia menghadapi kehidupanya: ketegangan eksistensial,
mulai terasa. Lewat kalimat-kalimat pendek yang padat, ruh sang aku yang
belum juga sempurna mulai ditiupkan Chairil.
Misalnya saya ambil saja contoh tema
tentang tarik ulur kehidupan dan kematian. Sebuah tema yang kemudian
sangat khas dan mewarnai hampir seluruh puisi Chairil. Sajak-sajak awal
Chairil sudah bersikap penuh ketegangan di depan kematian. Barangkali
memang hidup harus dipertahankan dengan mati-matian, tapi jangan sampai
mati beneran.
Dalam ruang antara hidup dan mati mungkin hanya sia-sia kata yang paling bertenaga untuk mengambarkan kehidupan manusia. /Kecil setumpuk,/ sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk/. Begitulah
dalam sajak penghidupan yang berangka tahun 1942 bulan desember. Masa
awal kepenyairan Chairil anwar. Penghidupan manusia adalah kesia-siaan,
barangkali manusia: dikuntuk untuk hidup sia-sia.
Melihat hidup hanyalah setumpuk kecil
kesia-siaan, eksistensi manusia bertahan dalam apa yang disebut camus
sebagai absurditas. Lantas hendakkah diatasi kondisi eksistensial
tersebut. Tentu Chairil akan menjawab ia, seperti juga camus yang
akhirnya membuka jalan untuk pembrontakan.
Aku ini binatang jalang/ dari
kumpulanya terbuang/ biar peluru menembus kulitku/ aku tetap meradang
menerjang/ ………….aku akan lebih tidak peduli/ aku mau hidup seribu tahun
lagi/
Dalam setumpuk kesia-siaan hidup harus
dilawan, diterjang. Aku Chairil ditemukan dalam ketegangan eksistensial
yang penuh perlawanan. Penyair yang mengawali era modern utuk sastra Indonesia
itu juga adalah seorang eksistensialis tulen. Dia hendak keluar dari
struktur masyarakatnya. Dengan aku yang mungkin diilusikan sebagai
sebuah ketuntasan identitas, Chairil akan melawan. Melawan hidup yang
serba ajek dan pasti. Melawan dengan menumpu pada keyakinan kebebasan
dan kekuatan mutlak kemampuan manusia: sang aku yang mau hidup seribu
tahun lagi.
/2/
Hidup hanya menunda kekalahan/
tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu ada yang tetap tidak
diucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah/ . menyerahkan
akhirnya Chairil?, kepercayaanya pada aku yang diandaikan sebagai
totalitas identitas kediriaan yang mampu menerjang, bahkan mampu hidup
seribu tahun lagi. Setelah dibentur pada soal-soal hidup yang ternyata
kerumitanya tidak bisa disatukan, dipegang dalam kepalan tangan, melalui
konsep ataupun ilmu
pengetahuan. Sebelum mati di karet Chairil menulis sajak derai-derai
cemara yang salah satu baitnya saya gunakan membuka parafraf ini. Sebuah
sajak tentang penyerahan diri kembali.
Kehendak hidup seribu tahun dengan
pengandaian telah menemukan aku yang total akhirnya harus dilupakan.
Hidup tidak lagi dihadapi dalam tegang eksistensi untuk menjadi yang
paling Ada. Kata orang jawa sumeleh, dari kata dasar seleh,
yang kurang lebih artinya dalam bahasa Indonesia adalah: penerimaan.
Begitulah Chairil akhirnya menyerah, menerima bahwa perjuangan
eksistensialnya harus berakhir dalam sepi takdir yang sia-sia.
Ketegangan dihindari diganti penerimaan, sumeleh …mengejar dengan sikap
prasodjo- tengah-tengah- sadar bahwa tetap ada yang tidak bisa diatasi
lewat eksistensi. Sadar bahwa sejaka wal kebebasan adalah juga
kterbatasan. Maka tidak ada pilihan lain selain sadar akan keterbatasan.
Dunia kehidupan menajdi misteri dan manusia dikutuk untuk tidak pernah
memahami isteri itu kecuali sedikit saja. Sedikit.
Menulis tentang aku lewat Chairil adalah
menulis tentang masa silam. Bagaimanapun juga ke-Akuan- adalah
akumulasi dari masa silam aku hingga masa kini aku. Jika begitu maka
masalahnya adalah bagaimana menghadirkan sesuatu yang telah lama
terhadi, hilang bahkan mati, dalam suasana kekinian yang hidup. Lewat
kenangan, lewat mengingat, walaupun kenangan dan ingatan adalah sejenis
penyakit jiwa paling akut. Karena mengingat dan mengenang kita bisa
menjadi gila. Terjebak dalam masa lalu tidak kunjung move on.
/3/
Mengenang adalah sesuatu yang
menyebalkan. Di sana ada lupa dan ingatan, menyatu dalam bahasa
nostalgi: sebuah kerinduan akan kelampauan. Merindukan yang telah
hilang. Terjebak dalam suasana melankoli yang syahdu. Waktu tidak
dicatat dalam gerak jarum jam yang cepat. Masuk dalam sebuah alam
–semacam dunia lain-, yang bagi saya kadang itu sangat menyiksa dan
sekaligus mengasikkan.
Terjebak dalam suasana amuk badai antara
insan. Walaupun ketika itu saya sendiri. Tapi dalam setiap peristiwa
yang saya kenang selalu ada orang lain, insan lain. Maka suasananya
adalah amuk badai antara insan. Pun sebenarnya saya juga tidak terlalu
yakin, kesendirian saya adalah juga keutuhan identitas diri, yang
benar-benar utuh dan otonom. Lalu benarkah identitas saya otentik?
bagaikan saat di depan cermin dan saya melihat gambaran utuh diri saya.
Benarkah identitas saya kukuh dan utuh?.
Tapi kata “saya”, atau “aku” yang
digunakan menunjuk sebuah identitas subjektif, benarkah itu ada?
Bukankah kata “saya” atau “aku”, adalah juga konstruksi lingkungan,
sebuah kesepakatan budaya.
Yang tinggal saja “saya” warisi dan gunakan untuk menunjuk identitas
personal. Dalam mengenang dan menginggat dapatkah saya temukan
benar-benar identitas saya yang sebenarnya, benar-benar “aku” saya:
subjektifitas murni.
Lagi-lagi terjebak dalam kesadaran
imanen. Sesuatu yang jelas saya sadari melekat dalam diri saya saat
sekarang ini, dan mengilusikanya sebagai identitas utuh saya. Akhirnya,
berusaha melampaui, menggapai yang telah hilang, menggapai yang jauh
atau jika tak bisa hanya berniat mendekatinya saja: transendensi.
Begitulah tarik ulur antara imanensi dan transendensi identitas saya,
menyadari yang melekat sekaligus merindukan sesuatu yang lampau dan
jauh.
Ketika menulis ini pun, saya sedang
terjebak, atau lebih tepatnya menjebak diri sendiri. Menyerahkan diri
pada ingatan dan kenangan, masuk dan mengambil jarak dari peristiwa lalu
menuliskanya. Segelas kopi yang sejak awal sudah dingin, sebatang
rokok, kepulan asap, dan menulis kenangan menjadi semakin mengasikkan
–semoga saya tidak berbohong-.
/4/
Menyusuri jalan-jalan Jogja yang padat.
Datang ke sebuah pameran seni rupa. Melihat lukisan-lukisan yang
terpampang di dinding. Mencermati setiap goresan dan mengenang, di
gedung tua ini pernah suatu saat kita sampai larut malam berdebat,
tentang letak lukisan yang paling pas.
Kini di samping saya tidak ada kau. Seniman yang membingungkan. Tapi pada akhir pertemuan saya masih ingat kita bersepakat de gustibus non dispotandum,
soal rasa seni tidak bisa dibicarakan. Dibicarakan saja tidak bisa
apalagi diperdebatkan. Maka saya mafhum saja perdebatan kita yang lalu
itu hanya kesia-siaanya belaka.
Hampir satu tahun ini saya benar-benar
absen dari kegiatan seni yang dipertontonkan. Tidak pernah lagi
mengikuti diskusi sastra, pementasan teater, pembacaan puisi, konser
musik klasik, pameran seni rupa awur-awuran yang katanya semangat
postmodern, bahkan nonton pertunjukan wayang, yang dulunya saya selalu
bersemangat, satu tahun ini benar-benar tidak pernah.
Hanya dalam soal membaca karya sastra
saya benar-benar tidak pernah absen. Bukan karena apa-apa, hanya agar
saya tidak terjebak dalam alur kepastian hidup metodologis ilmu
pengetahuan. Sebuah kepastian yang membahagiakan, tapi memangkas
keindahan hidup sampai benar benar clear and distinc. Kata teman dekat
saya “membaca karya sastra adalah sarat kesehatan jiwa”, sampai sekarang
saya amini saja ujaran itu. Tapi tak tahu, jika suatu saat nanti saya
temukan alasan untuk mengharamkan membaca sastra –semoga saya tidak
pernah menemukan alasan itu-.
Hanya ketika menikmati karya seni,
tepatnya menikmati segala hal sebagai karya seni. Saya berusaha
mendekati –ingat bukan menemukan, hanya mendekati- apa yang digambarkan
Chesterton sebagai “a gift of loneliness, which is the gift of liberty”. Kesunyian
itu mengandung karunia: kebebasan. Dari jembatan karya seni dan
kesunyian, saya berusaha memulai mencari gambaran utuh identitas saya.
Loneliness, kesunyian, kelambanan. Hanya melalui itu saya bisa sedikit faham apa yang tertulis dalam serat Joko Tingkir urip iku tan keno pinetik.
Lalu bagaimana jika identitas ternyata juga tidak bisa terpetik,
terpecah dan tidak utuh: pada mulanya hidup sudah terpecah dan
berserakan. Dia tidak bisa diringkus oleh apapun.
Akhirnya saya selalu menghindar dari
kesimpulan, tapi tak bisa dipungkiri di dalam relung hati terdalam, saya
ingin mendapat kesimpulan tentang identitas saya. Antara getar dan
terpesona akhirnya saya berpegang: identitas adalah juga keindahan.
Keindahan ada tetapi sejak awal dia diciptakan seperti juga hidup yang tan keno penetik. Yang saya wajibkan bagi diri saya adalah menikmati dan menghayati hidup sebagai karya seni.
/5/
Membuka laptop, tertubruk kabar-kabar
dari twitter, semua minta diperhatikan. Hanya orang tolol yang mau hidup
dalam kesunyian. Jogja sekarang bukan kota yang kau datangi pertama
kali enam tahun lalu itu. Sawah dan burung-burung bangau yang kau lihat
ketika hendak berangkat sekolah telah hilang. Sawah sudah ditanami
rumah-rumah dan burung-burung bangau menjelma burung twitter yang
berkicau dengan berbagai bahasa, mengeluh dan menghujat apa saja.
Bodoh jika kau mengenang suasana dan
dirimu enam tahun yang lalu. Tak usah jauh-jauh 6 bulan yang lalu pun
tolol jika kau kenang. Manusia modern hidup dalam kekinian, masa lalu
dan ingatan hanya sejenis penyakit jiwa. Apalagi soal identitas diri,
itu penyakit jiwa paling akut. Mengikuti arus sajalah. Lekas bergerak,
kau diburu waktu. Siapa cepat dia dapat. Sudah tak ada jalan-jalan
lengang di Tegalrejo, jalan-jalan menuju sekolahmu kini ramai dengan
gerai pulsa, tempat orang-orang menjual kecepatan. Menjual koneksi
membuka dunia, masuk dalam jaringan global. Lekas bergegaslah kau.
Ayo..ayooo!.
Ini dunia nyata tempat berbagai budaya menyatu. Kau bisa duduk santai di kamar kostmu sambil berbincang-bincang tentang produk apple terbaru dengan orang di café taman kota Blomingtoon. Sambung koneksi bisnismu. Gadaikan buku-bukumu dengan jam swiss army
terbaru. Harus tampil necis,klimis celana produk terbaru, jangan lupa
deodorant yang memikat wanita, minyak wangi prancis termahal harus
punya. Kau mesti lekas bergegas dalam tubuh tergesa.
Suara siapa itu? Ahh itu bukan suara
saya, tapi mungkin juga suara saya. Tapi siapa saya?. Saya adalah diri
saya sekaligus bukan diri saya. Bagaimana ini identitas saya?.
Saya hidup di Indonesia, di Yogyakarta,
tapi kaki saya pertama kali menyentuh tanah di lereng gunung kelud kab
Kediri. Sebuah desa kecil yang primitif dan tradisional, maka saya lekas
“dibuang” keluar dari kebudayaan desa yang primitif oleh orang tua saya
sejak lulus SD.
Lekas dijauhkan dari kebudayaan
masyarakat lereng gunung, yang hobi bersemedi merapal dzikir di
bilik-bilik pesantren. Masyarakat desa yang mengharap ilmu dengan
mencium bolak-balik tangan kyai, yang bisa saja tangan kyai itu
korengan. Ilmu yang diharapkan menjadi sesuatu yang jauh, tapi tertular
koreng adalah kenyataan tak terhindarkan.
Tangan siapa yang terus menekan tombol keyboard dan menulis ini semua? Tangan siapa, jiwa siapa?
Menenggok dan melihat cermin, di sana
saya melihat diri saya terpecah-pecah, dan setiap pecahan berbicara
sendiri tentang dirinya. Setiap pecahan bercerita tentang hidup dan
kebudayaanya . Setiap pecahan cermin, harus saya terima sebagai
identitas saya. Lalu diri saya dalam pantulan cermin terpecah adalah
keidahan, adalah mozaik yang tidak bisa disatukan. Hanya harus diterima
sebagai keidahan cermin terbelah
Satu pecahan bercerita tentang keindahan
puisi-puisi T.S Elliot, menikmati pengeruk salju yang disulap menjadi
karya seni oleh Duchamp, dari kebudayaan yang sangat jauh itu. Satu
pecahan lagi bersenandung wedhatama saben nendro saking wismo kelono leladan sepi.
Satu pecahan lagi bercerita tentang kehidupan Jogja yang mengasikkan,
nongkrong di café, tertawa terbahak-bahak. Satu pecahan lagi bercerita
tentang sekumpulan santri-santri di pesantren Krapyak yang katanya
mengejar kebahagiaan hidup. Pecahan-pecahan yang lain suaranya kabur,
tidak jelas, terlalu lembut dan syahdu.
Semua pecahan itu bagian dari diri saya.
Tapi mana yang benar-benar diri saya? Mana?mana?. sudahlah bukankah
sejak awal akan segera menerima identitas saya yang terpecah-pecah dalam
pantulan cermin? Maka suasana identitas saya : amuk badai antara insan.
amuk badai dalam insan juga amuk badai antara budaya.
/6/
Saat melihat lukisan potret diri dari
Affandi, saya lagi-lagi tak dapat meilhat itu sebagai akhir dari
keutuhan keidahah karya seni rupa. Potret diri Affandi, saya cerap
sebagai pecahan-pecahan dari berbagai cat minyak yang disatukan dalam
satu medium kanvas. Lukisan tersebut saya terima bukan sebagai poret
diri. Tapi sebagai potret keterpecahan. Gabungan setiap warna, goresan
yang timbul tenggelam, hidup sendiri-sendiri. Terlepas dari kemahiran
Affandi untuk menyatukanya menjadi potret kesatuan dirinya. Saya tetap
melihat lukisan tersebut sebagai keterpecahan.
Bagi saya upaya penyatuan setiap warna
menjadi sia-sia, karena sejak awal semua hanya menghendaki diakui, tentu
dengan segala cacat dan ketidaklengkapanya. Warna merah, biru, hijau,
mengandung ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itulah yang harus
diakui. Entah dalam pengakuan yang berbentuk harmoni, atau pertentangan
yang cautik. Begitulah akhirnya lukisan, sebagai seni rupa dengan keidahan cermin terbelah, juga idnetitas yang terbelah.
Sejak awal semua serba Skizofrenik,
terpecah-pecah, gila dan membingungkan, cacat dan tidak lengkap.
Lagi-lagi semua itu harus diperlakukan sebagai keindahan. Jika tidak
hendak mengakuinya, tentu kita harus siap tenaga untuk bersikap
otoriter, dengan daya utopis yang tinggi. Masuk dalam ketegangan dan
ambisi, memaksakan dunia harus ada dalam bentuk ideal, tanpa yang lemah,
tanpa yangcacat, tanpa keterpecahan. Tapi bisakah hal tersebut?
Pertanyaan tersebut hanya layak dijawab
oleh mereka yang sejak awal hanya belajar tentang angka-angka yang
sempurna dan ideal. Tapi saya, sejak awal sudah terlanjur tidak
mempelajari angka-angka. Jika tetap berniat menjawabnya dengan sebuah
formula ideal, saya takut itu sebuah kejahatan. Memanipulasi hidup, dan
kenyataan yang sejak awal tak utuh. Dengan kata lain menjebak diri
sendiri dalam uvoria utopisme tanpa henti, dan bisa jadi membuat kita
lupa sedang hidup di dunia yang sebenarnya dan sangat nyata, bukan dunia
ide.
/7/
Keindahan justru ada ketika kita bisa
menerima setiap ketidak-utuh-an. Setiap apa yang tidak normal, apa yang
dianggap remeh. Apa yang yang hanya dianggap serpihan-serpihan dari
sebuah kesatuan yang dianggap ideal. Keidahan akhirnya harus saya maknai
sebagai cermin yang terbelah, begitu juga dengan identitas saya.
Akhirnya semoga perbincangan dalam esai
ini tetap membuat seni dan juga identitas sebagai misteri tentang
keterpecahan yang tak terpecahkan. Dan saya harus mengalah karena ars long a vita brevis, seni itu panjang, tapi hidup itu pendek, sejak awal seni de gustibus non dispotandum.
Dia tidak bisa dibicarakan. Apalagi dibicarakan dalam rangka mencari
identitas.
sumber:
(DANANG T.P., Mahasiswa filsafat UGM 12′, Pim LITBANG LSF COGITO)
http://lsfcogito.org/perjalanan-mencari-aku/
