Minggu, 09 Agustus 2015

Perjalanan Mencari Aku

/1/
Oktober 1942, hidup dengan penerimaan takdir, berarti menerima juga takdir kematian. Tidak ada yang perlu dilakukan selain penerimaan, -keridlaan-. Berarti tidak ada perlawanan, konfrontasi diakhiri, dalam segala keterbatasan akhirnya sepi takdir harus juga diterima dalam suasana getir.
Nisan, /bukan kematian benar menusuk kalbu/ keridlaanmu menerima segala tiba/
Begitulah Chairil anwar, atau lebih tepatnya segi lain Chairil. Bukan Chairil yang meledak-ledak, bukan Chairil yang penuh perlawanan, bukan Chairil yang penuh kepercayaan pada diri, mengengam dunia dalam kepalan tangannya. Sambil tetap menghisap rokok, dengan ekspresi muka yang sinis.
Barangkali hidup memang belum seutuhnya sempurna. Sang aku belum juga ditemukan dalam ketuntasan bentuk identitas. Tapi nada-nada perlawanan mulai terdengar: sayup-sayup. Ketegangan manusia menghadapi kehidupanya: ketegangan eksistensial, mulai terasa. Lewat kalimat-kalimat pendek yang padat, ruh sang aku yang belum juga sempurna mulai ditiupkan Chairil.
Misalnya saya ambil saja contoh tema tentang tarik ulur kehidupan dan kematian. Sebuah tema yang kemudian sangat khas dan mewarnai hampir seluruh puisi Chairil. Sajak-sajak awal Chairil sudah bersikap penuh ketegangan di depan kematian. Barangkali memang hidup harus dipertahankan dengan mati-matian, tapi jangan sampai mati beneran.
Dalam ruang antara hidup dan mati mungkin hanya sia-sia kata yang paling bertenaga untuk mengambarkan kehidupan manusia. /Kecil setumpuk,/ sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk/. Begitulah dalam sajak penghidupan yang berangka tahun 1942 bulan desember. Masa awal kepenyairan Chairil anwar. Penghidupan manusia adalah kesia-siaan, barangkali manusia: dikuntuk untuk hidup sia-sia.
Melihat hidup hanyalah setumpuk kecil kesia-siaan, eksistensi manusia bertahan dalam apa yang disebut camus sebagai absurditas. Lantas hendakkah diatasi kondisi eksistensial tersebut. Tentu Chairil akan menjawab ia, seperti juga camus yang akhirnya membuka jalan untuk pembrontakan.
Aku ini binatang jalang/ dari kumpulanya terbuang/ biar peluru menembus kulitku/ aku tetap meradang menerjang/ ………….aku akan lebih tidak peduli/ aku mau hidup seribu tahun lagi/
Dalam setumpuk kesia-siaan hidup harus dilawan, diterjang. Aku Chairil ditemukan dalam ketegangan eksistensial yang penuh perlawanan. Penyair yang mengawali era modern utuk sastra Indonesia itu juga adalah seorang eksistensialis tulen. Dia hendak keluar dari struktur masyarakatnya. Dengan aku yang mungkin diilusikan sebagai sebuah ketuntasan identitas, Chairil akan melawan. Melawan hidup yang serba ajek dan pasti. Melawan dengan menumpu pada keyakinan kebebasan dan kekuatan mutlak kemampuan manusia: sang aku yang mau hidup seribu tahun lagi.
/2/
Hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah/ . menyerahkan akhirnya Chairil?, kepercayaanya pada aku yang diandaikan sebagai totalitas identitas kediriaan yang mampu menerjang, bahkan mampu hidup seribu tahun lagi. Setelah dibentur pada soal-soal hidup yang ternyata kerumitanya tidak bisa disatukan, dipegang dalam kepalan tangan, melalui konsep ataupun ilmu pengetahuan. Sebelum mati di karet Chairil menulis sajak derai-derai cemara yang salah satu baitnya saya gunakan membuka parafraf ini. Sebuah sajak tentang penyerahan diri kembali.
Kehendak hidup seribu tahun dengan pengandaian telah menemukan aku yang total akhirnya harus dilupakan. Hidup tidak lagi dihadapi dalam tegang eksistensi untuk menjadi yang paling Ada. Kata orang jawa sumeleh, dari kata dasar seleh, yang kurang lebih artinya dalam bahasa Indonesia adalah: penerimaan. Begitulah Chairil akhirnya menyerah, menerima bahwa perjuangan eksistensialnya harus berakhir dalam sepi takdir yang sia-sia. Ketegangan dihindari diganti penerimaan, sumeleh …mengejar dengan sikap prasodjo- tengah-tengah- sadar bahwa tetap ada yang tidak bisa diatasi lewat eksistensi. Sadar bahwa sejaka wal kebebasan adalah juga kterbatasan. Maka tidak ada pilihan lain selain sadar akan keterbatasan. Dunia kehidupan menajdi misteri dan manusia dikutuk untuk tidak pernah memahami isteri itu kecuali sedikit saja. Sedikit.
Menulis tentang aku lewat Chairil adalah menulis tentang masa silam. Bagaimanapun juga ke-Akuan- adalah akumulasi dari masa silam aku hingga masa kini aku. Jika begitu maka masalahnya adalah bagaimana menghadirkan sesuatu yang telah lama terhadi, hilang bahkan mati, dalam suasana kekinian yang hidup. Lewat kenangan, lewat mengingat, walaupun kenangan dan ingatan adalah sejenis penyakit jiwa paling akut. Karena mengingat dan mengenang kita bisa menjadi gila. Terjebak dalam masa lalu tidak kunjung move on.
/3/
Mengenang adalah sesuatu yang menyebalkan. Di sana ada lupa dan ingatan, menyatu dalam bahasa nostalgi: sebuah kerinduan akan kelampauan. Merindukan yang telah hilang. Terjebak dalam suasana melankoli yang syahdu. Waktu tidak dicatat dalam gerak jarum jam yang cepat. Masuk dalam sebuah alam –semacam dunia lain-, yang bagi saya kadang itu sangat menyiksa dan sekaligus mengasikkan.
Terjebak dalam suasana amuk badai antara insan. Walaupun ketika itu saya sendiri. Tapi dalam setiap peristiwa yang saya kenang selalu ada orang lain, insan lain. Maka suasananya adalah amuk badai antara insan. Pun sebenarnya saya juga tidak terlalu yakin, kesendirian saya adalah juga keutuhan identitas diri, yang benar-benar utuh dan otonom. Lalu benarkah identitas saya otentik? bagaikan saat di depan cermin dan saya melihat gambaran utuh diri saya. Benarkah identitas saya kukuh dan utuh?.
Tapi kata “saya”, atau “aku” yang digunakan menunjuk sebuah identitas subjektif, benarkah itu ada? Bukankah kata “saya” atau “aku”, adalah juga konstruksi lingkungan, sebuah kesepakatan budaya. Yang tinggal saja “saya” warisi dan gunakan untuk menunjuk identitas personal. Dalam mengenang dan menginggat dapatkah saya temukan benar-benar identitas saya yang sebenarnya, benar-benar “aku” saya: subjektifitas murni.
Lagi-lagi terjebak dalam kesadaran imanen. Sesuatu yang jelas saya sadari melekat dalam diri saya saat sekarang ini, dan mengilusikanya sebagai identitas utuh saya. Akhirnya, berusaha melampaui, menggapai yang telah hilang, menggapai yang jauh atau jika tak bisa hanya berniat mendekatinya saja: transendensi. Begitulah tarik ulur antara imanensi dan transendensi identitas saya, menyadari yang melekat sekaligus merindukan sesuatu yang lampau dan jauh.
Ketika menulis ini pun, saya sedang terjebak, atau lebih tepatnya menjebak diri sendiri. Menyerahkan diri pada ingatan dan kenangan, masuk dan mengambil jarak dari peristiwa lalu menuliskanya. Segelas kopi yang sejak awal sudah dingin, sebatang rokok, kepulan asap, dan menulis kenangan menjadi semakin mengasikkan –semoga saya tidak berbohong-.
/4/
Menyusuri jalan-jalan Jogja yang padat. Datang ke sebuah pameran seni rupa. Melihat lukisan-lukisan yang terpampang di dinding. Mencermati setiap goresan dan mengenang, di gedung tua ini pernah suatu saat kita sampai larut malam berdebat, tentang letak lukisan yang paling pas.
Kini di samping saya tidak ada kau. Seniman yang membingungkan. Tapi pada akhir pertemuan saya masih ingat kita bersepakat de gustibus non dispotandum, soal rasa seni tidak bisa dibicarakan. Dibicarakan saja tidak bisa apalagi diperdebatkan. Maka saya mafhum saja perdebatan kita yang lalu itu hanya kesia-siaanya belaka.
lonely-robot_
sumber: http://www.robertsoncooper.com
Hampir satu tahun ini saya benar-benar absen dari kegiatan seni yang dipertontonkan. Tidak pernah lagi mengikuti diskusi sastra, pementasan teater, pembacaan puisi, konser musik klasik, pameran seni rupa awur-awuran yang katanya semangat postmodern, bahkan nonton pertunjukan wayang, yang dulunya saya selalu bersemangat, satu tahun ini benar-benar tidak pernah.
Hanya dalam soal membaca karya sastra saya benar-benar tidak pernah absen. Bukan karena apa-apa, hanya agar saya tidak terjebak dalam alur kepastian hidup metodologis ilmu pengetahuan. Sebuah kepastian yang membahagiakan, tapi memangkas keindahan hidup sampai benar benar clear and distinc. Kata teman dekat saya “membaca karya sastra adalah sarat kesehatan jiwa”, sampai sekarang saya amini saja ujaran itu. Tapi tak tahu, jika suatu saat nanti saya temukan alasan untuk mengharamkan membaca sastra –semoga saya tidak pernah menemukan alasan itu-.
Hanya ketika menikmati karya seni, tepatnya menikmati segala hal sebagai karya seni. Saya berusaha mendekati –ingat bukan menemukan, hanya mendekati- apa yang digambarkan Chesterton sebagai “a gift of loneliness, which is the gift of liberty”.  Kesunyian itu mengandung karunia:  kebebasan. Dari jembatan karya seni dan kesunyian, saya berusaha memulai mencari gambaran utuh identitas saya.
Loneliness, kesunyian, kelambanan. Hanya melalui itu saya bisa sedikit faham apa yang tertulis dalam serat Joko Tingkir urip iku tan keno pinetik. Lalu bagaimana jika identitas ternyata juga tidak bisa terpetik, terpecah dan tidak utuh: pada mulanya hidup sudah terpecah dan berserakan. Dia tidak bisa diringkus oleh apapun.
Akhirnya saya selalu menghindar dari kesimpulan, tapi tak bisa dipungkiri di dalam relung hati terdalam, saya ingin mendapat kesimpulan tentang identitas saya. Antara getar dan terpesona akhirnya saya berpegang: identitas adalah juga keindahan. Keindahan ada tetapi sejak awal dia diciptakan seperti juga hidup yang tan keno penetik. Yang saya wajibkan bagi diri saya adalah menikmati dan menghayati hidup sebagai karya seni.

/5/
Membuka laptop, tertubruk kabar-kabar dari twitter, semua minta diperhatikan. Hanya orang tolol yang mau hidup dalam kesunyian. Jogja sekarang bukan kota yang kau datangi pertama kali enam tahun lalu itu. Sawah dan burung-burung bangau yang kau lihat ketika hendak berangkat sekolah telah hilang. Sawah sudah ditanami rumah-rumah dan burung-burung bangau menjelma burung twitter yang berkicau dengan berbagai bahasa, mengeluh dan menghujat apa saja.
Bodoh jika kau mengenang suasana dan dirimu enam tahun yang lalu. Tak usah jauh-jauh 6 bulan yang lalu pun tolol jika kau kenang. Manusia modern hidup dalam kekinian, masa lalu dan ingatan hanya sejenis penyakit jiwa. Apalagi soal identitas diri, itu penyakit jiwa paling akut. Mengikuti arus sajalah. Lekas bergerak, kau diburu waktu. Siapa cepat dia dapat. Sudah tak ada jalan-jalan lengang di Tegalrejo, jalan-jalan menuju sekolahmu kini ramai dengan gerai pulsa, tempat orang-orang menjual kecepatan. Menjual koneksi membuka dunia, masuk dalam jaringan global. Lekas bergegaslah kau. Ayo..ayooo!.
Ini dunia nyata tempat berbagai budaya menyatu. Kau bisa duduk santai di kamar kostmu sambil berbincang-bincang tentang produk apple terbaru dengan orang di café taman kota Blomingtoon. Sambung koneksi bisnismu. Gadaikan buku-bukumu dengan jam swiss army terbaru. Harus tampil necis,klimis celana produk terbaru, jangan lupa deodorant yang memikat wanita, minyak wangi prancis termahal harus punya. Kau mesti lekas bergegas dalam tubuh tergesa.
Suara siapa itu? Ahh itu bukan suara saya, tapi mungkin juga suara saya. Tapi siapa saya?. Saya adalah diri saya sekaligus bukan diri saya. Bagaimana ini identitas saya?.
Saya hidup di Indonesia, di Yogyakarta, tapi kaki saya pertama kali menyentuh tanah di lereng gunung kelud kab Kediri. Sebuah desa kecil yang primitif dan tradisional, maka saya lekas “dibuang” keluar dari kebudayaan desa yang primitif oleh orang tua saya sejak lulus SD.
Lekas dijauhkan dari kebudayaan masyarakat lereng gunung, yang hobi bersemedi merapal dzikir di bilik-bilik pesantren. Masyarakat desa yang mengharap ilmu dengan mencium bolak-balik tangan kyai, yang bisa saja tangan kyai itu korengan. Ilmu yang diharapkan menjadi sesuatu yang jauh, tapi tertular koreng adalah kenyataan tak terhindarkan.
Tangan siapa yang terus menekan tombol keyboard dan menulis ini semua? Tangan siapa, jiwa siapa?
Menenggok dan melihat cermin, di sana saya melihat diri saya terpecah-pecah, dan setiap pecahan berbicara sendiri tentang dirinya. Setiap pecahan bercerita tentang hidup dan kebudayaanya . Setiap pecahan cermin, harus saya terima sebagai identitas saya. Lalu diri saya dalam pantulan cermin terpecah adalah keidahan, adalah mozaik yang tidak bisa disatukan. Hanya harus diterima sebagai keidahan cermin terbelah
Satu pecahan bercerita tentang keindahan puisi-puisi T.S Elliot, menikmati pengeruk salju yang disulap menjadi karya seni oleh Duchamp, dari kebudayaan yang sangat jauh itu. Satu pecahan lagi bersenandung wedhatama saben nendro saking wismo kelono leladan sepi. Satu pecahan lagi bercerita tentang kehidupan Jogja yang mengasikkan, nongkrong di café, tertawa terbahak-bahak. Satu pecahan lagi bercerita tentang sekumpulan santri-santri di pesantren Krapyak yang katanya mengejar kebahagiaan hidup. Pecahan-pecahan yang lain suaranya kabur, tidak jelas, terlalu lembut dan syahdu.
Semua pecahan itu bagian dari diri saya. Tapi mana yang benar-benar diri saya? Mana?mana?. sudahlah bukankah sejak awal akan segera menerima identitas saya yang terpecah-pecah dalam pantulan cermin? Maka suasana identitas saya : amuk badai antara insan. amuk badai dalam insan juga amuk badai antara budaya.
                                                                         /6/       
Saat melihat lukisan potret diri dari Affandi, saya lagi-lagi tak dapat meilhat itu sebagai akhir dari keutuhan keidahah karya seni rupa. Potret diri Affandi, saya cerap sebagai pecahan-pecahan dari berbagai cat minyak yang disatukan dalam satu medium kanvas. Lukisan tersebut saya terima bukan sebagai poret diri. Tapi sebagai potret keterpecahan. Gabungan setiap warna, goresan yang timbul tenggelam, hidup sendiri-sendiri. Terlepas dari kemahiran Affandi untuk menyatukanya menjadi potret kesatuan dirinya. Saya tetap melihat lukisan tersebut sebagai keterpecahan.
Bagi saya upaya penyatuan setiap warna menjadi sia-sia, karena sejak awal semua hanya menghendaki diakui, tentu dengan segala cacat dan ketidaklengkapanya. Warna merah, biru, hijau, mengandung ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itulah yang harus diakui. Entah dalam pengakuan yang berbentuk harmoni, atau pertentangan yang cautik. Begitulah akhirnya lukisan, sebagai seni rupa dengan keidahan cermin terbelah, juga idnetitas yang terbelah.
Sejak awal semua serba Skizofrenik, terpecah-pecah, gila dan membingungkan, cacat dan tidak lengkap. Lagi-lagi semua itu harus diperlakukan sebagai keindahan. Jika tidak hendak mengakuinya, tentu kita harus siap tenaga untuk bersikap otoriter, dengan daya utopis yang tinggi. Masuk dalam ketegangan dan ambisi, memaksakan dunia harus ada dalam bentuk ideal, tanpa yang lemah, tanpa yangcacat, tanpa keterpecahan. Tapi bisakah hal tersebut?
Pertanyaan tersebut hanya layak dijawab oleh mereka yang sejak awal hanya belajar tentang angka-angka yang sempurna dan ideal. Tapi saya, sejak awal sudah terlanjur tidak mempelajari angka-angka. Jika tetap berniat menjawabnya dengan sebuah formula ideal, saya takut itu sebuah kejahatan. Memanipulasi hidup, dan kenyataan yang sejak awal tak utuh. Dengan kata lain menjebak diri sendiri dalam uvoria utopisme tanpa henti, dan bisa jadi membuat kita lupa sedang hidup di dunia yang sebenarnya dan sangat nyata, bukan dunia ide.
/7/
Keindahan justru ada ketika kita bisa menerima setiap ketidak-utuh-an. Setiap apa yang tidak normal, apa yang dianggap remeh. Apa yang yang hanya dianggap serpihan-serpihan dari sebuah kesatuan yang dianggap ideal. Keidahan akhirnya harus saya maknai sebagai cermin yang terbelah, begitu juga dengan identitas saya.
Akhirnya semoga perbincangan dalam esai ini tetap membuat seni dan juga identitas sebagai misteri tentang keterpecahan yang tak terpecahkan. Dan saya harus mengalah karena ars long a vita brevis, seni itu panjang, tapi hidup itu pendek, sejak awal seni de gustibus non dispotandum. Dia tidak bisa dibicarakan. Apalagi dibicarakan dalam rangka mencari identitas. 

 sumber:
(DANANG T.P., Mahasiswa filsafat UGM 12′, Pim LITBANG LSF COGITO)
http://lsfcogito.org/perjalanan-mencari-aku/

Lumajang kotaku

LUMAJANG KOTA PISANG


Mengapa Lumajang disebut KOTA PISANG????
Semua Kota pasti punya julukan atau sebutan Khas..
Sebutan untuk sebuah Kota biasanya diambilkan dari sesuatu yang banyak dihasilkan, atau sesuatu yang Khas dari dalam Kota itu sendiri.
Lumajang adalah Kota Kecil di Jawa Timur.
Letaknya sekitar 140km selatan Kota Surabaya. atau 60 km sebelah barat Kota Jember.
Kota Lumajang adalah Kota yang damai.Meski Kota Lumajang gak besar, tapi Lumajang sangat bersih.Lumajang sudah beberapa kali penghargaan ADIPURA tinggal di Lumajang.Karena Lumajang adalah Kota ATIB BERSERI.
- Aman
- Tertib
- Bersih
- Sehat
- Rapi
- Indah

Lumajang sangat dikenal dengan sebutan KOTA PISANG.Karena di Kota Lumajang banyak sekali dihasilkan pisang.Pisang yang paling terkenal dari Kota Lumajang adalah PISANG AGUNG.Jadi, Kota Lumajang juga biasa disebut KOTA PISANG AGUNG.Sesuai dengan namanya, Lumajang adalah produsen terbesar dalam pembuatan Keripik yang terbuat dari bahan Pisang Agung.Siapa yang gak kenal dengan Keripik Pisang Agung Lumajang...???Sangat mudah mendapatkan keripik khas Lumajang ini.
Bila anda penasaran, anda bisa mampir kapan saja...Dijamin!!!! ANDA TIDAK AKAN KECEWA....

 salam anak LUMAJANG.......

Jejak kejayaan Majapahit dari Situs Biting Lumajang

 
Arkeolog dari Balai Arekeologi Yogyakarta tengah memberikan penjelasan kepada wartawan Pokja Grahadi-Pahlawan dan Staf Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim di lokasi Situs Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, pada Sabtu (21/9/13). Keberadaan Situs Biting dipastikan menjadi arkeologi peninggalan yang penting untuk segera ditelusuri mengingat posisi strategisnya menjadi lokasi pusat Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang menjadi bagian otonom dari Kerajaan Majapahit. (Foto Yuristiarso Hidayat)
(WIN): Menelusuri rekam jejak peradaban dan kejayaan masa lalu bangsa Indonesia saat ini tentu bukan suatu yang sulit. Bahkan bila ditilik dari disiplin ilmu sejarah maka akan mengarahkan kepada setidaknya tiga Kerajaan Besar yaitu Kerajaan Mataram, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit, ketiganya telah disepakati oleh akademisi dan disetujui oleh masyarakat secara umum sebagai sebuah paradigma dalam menjejaki alur keberadaan Indonesia di pentas Internasional .
Sementara itu, dari sekian peninggalan Kerajaan Majapahit yang telah terkuak ke permukaan, ternyata ada sebuah situs yang sebenarnya relatif lama telah ditemukan (1861) namun sepertinya masih belum secara efektif dimasukkan dalam khasanah ‘dalam’ peninggalan utama Majapahit.  Sebuah peninggalan yang merupakan sebuah bangunan benteng beserta kotanya dengan luasan areal 135 hektare itu diberi nama Situs Biting yang berada di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang. Meski demkian sejumlah pihak kini berupaya keras mengaitkan kesejarahan besar Majapahit dengan situs tersebut dengan harapan agar lokasi situs Biting bisa ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya berlevel nasional.  
Jejak Indonesia dari tiga kerajaan besar
Pertama akan muncul nama kerajaan Mataram Kuno, dimana bangsa Indonesia menjadi terkenal berkat sejumlah peninggalan penting berupa candi baik untuk masa Hindu dan Budha sehingga bisa menggambarkan betapa hebatnya kehidupan masa Kerajaan Mataram saat itu.
Gambaran kehebatan Indonesia saat Kerajaan Mataram secara simple akan bisa digambarkan dari dua candi besar yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Candi Borobudur yang masuk kategori peninggalan Budha itu dibuat dimasa kepemimpinan Raja Samaratungga (812 – 832 M) dari Wangsa Syailendra (752-832 M). Kebesaran candi ini sempat membuatnya menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. 
Sementara itu, satu wangsa lainnya yang beragama Hindu yaitu Wangsa Sanjaya yang juga sempat menjadi pemimpin dalam dinasti Mataram Kuno dalam periode lebih lama dari wangsa Syailendra (717-913 M) ternyata tidak mau kalah dengan memberikan peninggalan Candi Prambanan sebagai bukti tingginya peradaban bangsa Indonesia saat itu. Seolah tidak mau kalah dengan Candi Borobudur, maka Candi Prambanan juga ditasbihkan sebagai candi Hindu terbesar di tanah air.
Sementara itu, dua nama kerajaan lainnya yang bisa digunakan untuk merunut kehebatan dan kedigjayaan Indonesia masa lalu yaitu Kerajaan Sriwijaya (683-1025 M) dan Kerajaan Majapahit (1293-1500 M). Kedua kerajaan ini telah ditetapkan sebagai Kerajaan Nusantara mengingat besarnya kekuasaannya yang mencapai wilayah mancanegara. Kedua kerajaan ini secara khusus bisa mencerminkan kebesaran bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari dengan kemampuan pengusaan armada laut yang kuat dimasanya sehingga ribuan pulau bisa ditaklukkan menjadi dibawah kekuasaannya.
Kekuasaan Sriwijaya diketahui mencapai Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan. Sementara kekuasaan Majapahit diketahui mencapai Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina, serta sejumlah kepulauan di Samudra pasifik.
Secara khusus keberadaan Sriwijaya dan Majapahit dapat diketahui setidaknya selain dari sejumlah peninggalan peradabannya baik berupa prasasti maupun bangunan lainnya, juga dapat diketahui juga dari hasil karya sastra saat itu yang ditulis oleh sejumlah filsafat kerajaan.
Khusus untuk Kerajaan Sriwijaya, kehebatannya bisa dilihat dari tulisan seorang pendeta Tiongkok, bernama I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya pada 671 dan tinggal selama 6 bulan. Tulisan lain yang relatif lebih lengkap bisa dilihat pada hasil karya antropologi-sejarah dari sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient yang mempublikasikan karyanya pada 1918.
Sementara untuk Kerajaan Majapahit, rintisan sejarahnya bisa dilihat dari karya-karya sejumlah pejangga kerajaan seperti Mpu Prapanca dengan karyanya Negarakertagama, Mpu Tantular dengan karyanya Sotasoma. Catatan lainnya berasal dari sumber Italia mengenai Jawa pada era Majapahit didapatkan dari catatan perjalanan Mattiussi, seorang pendeta Ordo Fransiskan dalam bukunya Perjalanan Pendeta Odorico da Pordenone.
Seperti diketahui bahwa rekam sejak sejarah suatu bangsa disimpulkan bisa diketahui dari dua aspek pertama peninggalan fisik yang disebut peradaban baik berupa prasasti, candi maupun peninggalan fisik lainnya, kedua peninggalan berbasis kebudayaan berupa cerita rakyat maupun yang berbentuk karya tulis ilmiah.
Situs Biting
Seperti disampaikan diawal, situs Biting merupakan kawasan arkelogi baru bagi deretan peninggalan Kerajaan Majapahit. Dibilang baru, karena sejumlah pihak di tanah air belum terbilang lama untuk menseriusi penemuan situs benteng yang dikelilingi oleh sejumlah sungai itu. Padahal dari data dan fakta, penemuan situs Biting itu telah diawali pada 1861 oleh J.Magemen, seorang Belanda yang telah melakukan peninjauan pertama keberadaan situs peninggalan Kerajaan Majapahit itu.
Kecintaan bangsa Belanda atas peninggalan sejarah harus diakui memang lebih tinggi dibandingkan bangsa Indonesia. Ini bisa dibuktikan dengan keberadaan Situs Biting ini yang pada 1920 telah mulai dilakukan percobaan penggalian yang dipimpin A. Muhlenfeld. Tidak hanya proses penggalian, pemerintah Belanda kala itu juga telah melakukan proses pendokumentasian awal dengan memfoto beberapa sisi bagian situs Biting tersebut.
Sementara itu bangsa Indonesia sendiri baru 80 tahun kemudian secara sadar melakukan proses rekonstruksi dan penggalian yang dilakukan oleh Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang pada 1982. Prose situ sendiri dilakukan berdasarkan hasil laporan Balai Arkeologi Yogyakarta.
Kegiatan yang didukung penuh oleh Balai Arkeologi Yogyakarta itu ternyata dilakukan secara lebih serius ini dibuktikan dengan adanya 11 tahap proses penelitian dan penggalian yang dilakukan sejak 1982 hingga 1991. Dari hasil penelitian awal itu berhasil dibuktika adanya sisa-sisa dinding benteng serta struktur bangunan dari bata dan temuan fragmen wadah grebah serta fragmen keramik dari abad 14-20 masehi.
Profil Situs Biting      
Keberadaan Situs Biting ternyata telah diakui meski tingkat keterpercayaan referensinya belum pada tingkat validitas tinggi. Hal ini bisa diketahui dari laman situs online wikipedia yang merupakan situs ensiklopedia bebas telah memuat dan secara sederhana menjelaskan profil dan keberadaan Situs Biting.
Meski secara khusus Wikipedia menyebutkan bahwa “Artikel ini tidak memiliki referensi sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa diverifikasi.Bantulah memperbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak.Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.Tag ini diberikan tanggal Oktober 2013.”
Dalam Wikipedia disebutkan Situs Biting disebutkan sebagai sebuah situs arkeologis yang terletak di desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Situs ini diperkirakan merupakan peninggalan dari kerajaan Lamajang dan tersebar di atas kawasan seluas sekitar 135 hektare. Bangunan yang paling mengesankan adalah bekas tembok benteng dengan dengan panjang 10 kilometer, lebar 6 meter dan tinggi 10 meter.
Kawasan Situs Biting adalah sebuah kawasan ibu kota kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin Prabu Arya Wiraraja yang dikelilingi oleh benteng pertahanan dengan tebal 6 meter, tinggi 10 meter dan panjang 10 km. Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 1982-1991, Kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektar yang mencakup 6 blok/area merupakan blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha.
Dalam Babad Negara Kertagama, kawasan ini disebut Arnon dan dalam perkembangan pada abad ke-17 disebut Renong dan dewasa ini masuk dalam desa Kutorenon yang dalam cerita rakyat identik dengan "Ketonon" atau terbakar. Nama Biting sendiri merujuk pada kosa kata Madura bernama "Benteng" karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kokoh.
Kaitan Kerajaan Lamajang Tigang Juru dan Kerajaan Majapahit
Laman situs on line Wikipedia juga membeberkan secara ringkas sejarah dan kaitan Kerajaan Lamajang Tigang Juru dan Kerajaan Majapahit.
Dalam sejarahnya, prasasti Kudadu menyebutkan bahwa ketika Raden Wijaya melarikan diri bersama 12 pengawal setianya ke Madura, maka Adipati Arya Wiraraja yang saat itu menjabat sebagai adipati di Madura memberikan bantuan kepada Raden Wijaya guna merebut kembali haknya yang saat itu tengah digenggam Raja Jayakatwang asal Kerajaan Kediri yang belum lama memberontak dan menewaskan mertua Raden Wijaya yaitu Raja Kertanegara yang memimpin Kerajaan Singosari.
Pada kesepakatan itu termuan adanya pembagian kekuasaan bila Raden Wijaya berhasil merebut kebali kekuasaan sebagai Raja. Dalam kesepakatan dituangkan bahwa "pembagian tanah Jawa menjadi dua" yang sama besar yang kemudian di sebut "Perjanjian Sumenep".
Setelah itu Adipati Arya wiraraja memberi bantuan besar-besar kepada Raden Wijaya termasuk mengusahakan pengampunan politik terhadap Prabu Jayakatwang di Kediri dan pembukaan "hutan Terik' menjadi sebuah desa bernama Majapahit. Dalam pembukaan desa Majapahit ini sungguh besar jasa Adipati Arya Wiraraja dan pasukan Madura. Raden Wijaya sendiri datang di desa Majapahit setelah padi-padi sudah menguning.
Kira-kira 10 bulan setelah pendirian desa Majapahit ini, kemudian datanglah pasukan besar Mongol Tar Tar pimpinan Jendral Shih Pi yang mendarat di pelabuhan Tuban. Adipati Arya Wiraraja kemudian menasehati Raden Wijaya untuk mengirim utusan dan bekerja sama dengan pasukan besar ini dan menawarkan bantuan dengan iming-iming harta rampasan perang dan putri-putri Jawa yang cantik. Setelah dicapai kesepakatan maka diseranglah Prabu Jayakatwang di Kediri yang kemudian dapat ditaklukkan dalam waktu yang kurang dari sebulan. Setelah kekalahan Kediri, Jendral Shih Pi meminta janji putri-putri Jawa tersebut dan kemudian sekali lagi dengan kecerdikan Adipati Arya Wiraraja utusan Mongol dibawah pimpinan Jendral Kau Tsing menjemput para putri tersebut di desa Majapahit tanpa membawa senjata.
Hal ini dikarenakan permintaan Arya Wiraraja dan Raden Wijaya untuk para penjemput putri Jawa tersebut untuk meletakkan senjata dikarenakan permohonan para putri yang dijanjikan yang masih trauma dengan senjata dan peperangan yang sering kali terjadi. Setelah pasukan Mongol Tar Tar masuk desa Majapahit tanpa senjata, tiba-tiba gerbang desa ditutup dan pasukan Ronggolawe maupun Mpu Lembu Sora bertugas membantainya. Hal ini diikuti oleh pengusiran pasukan Mongol Tar Tar baik di pelabuhan Ujung Galuh (Surabya) maupun di Kediri oleh pasukan Madura dan laskar Majapahit. Dalam catatan sejarah, kekalahan pasukan Mongol Tar Tar ini merupakan kekalahan yang paling memalukan karena pasukan besar ini harus lari tercerai berai.
Setahun setelah pengusiran pasukan Mongol Tar Tar, menurut Kidung Harsawijaya, sesuai dengan "Perjanjian Sumenep" tepatnya pada 10 Nopember 1293 Masehi, Raden Wijaya diangkat menjadi Raja Majapahit yang wilayahnya meliputi wilayah-wilaah Malang (bekas kerajaan Singosari), Pasuruan, dan wilayah-wilayah di bagian barat sedangkan di wilayah timur berdiri kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Arya Wiraraja yang kemudian dalam dongeng rakyat Lumajang disebut sebagai Prabu Menak Koncar I.
Kerajaan Lamajang Tigang Juru ini sendiri menguasai wilayah seperti Madura, Lamajang, Patukangan atau Panarukan dan Blambangan. Dari pembagian bekas kerajaan Singosari ini kemudian kita mengenal adanya 2 budaya yang berbeda di Provinsi Jawa Timur, dimana bekas kerajaan Majapahit dikenal mempunyai budaya Mataraman, sedang bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru dikenal dengan "budaya Pendalungan (campuran Jawa dan Madura)" yang berada di kawasan Tapal Kuda sekarang ini. Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja)ini berkuasa dari tahun 1293- 1316 Masehi.
Sepeninggal Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja), salah seorang penerusnya yaiti Mpu Nambi diserang oleh Majapahit yang menyebabkan Lamajang Tigang Juru jatuh dan gugurnya Mpu Nambi yang juga merupakan Patih di Majapahit. Babad Pararaton menceritakan kejatuhan Lamajang pada tahun saka "Naganahut-wulan" (Naga mengigit bulan) dan dalam Babad Negara Kertagama disebutkan tahun "Muktigunapaksarupa" yang keduanya menujukkan angka tahun 1238 Saka atau 1316 Masehi.
Jatuhnya Lamajang ini kemudian membuat kota-kota pelabuhannya seperti Sadeng dan Patukangan melakukan perlawanan yang kemudian dikenal sebagai "Pasadeng" atau perang sadeng dan ketha pada Tahun 1331 Masehi.
Situs Biting, kapan menjadi Cagar Budaya nasional?
Seperti diketahui bahwa keberadaan situs Biting masih jauh dari sempurna bila dilihat dari sisi arkelogi, mengingat bentuk dan bangunan peninggalan situs Biting belum banyak yang terungkap secara fisik bentuk bangunan lengkapnya. Hal ini tentunya membutuhkan keseriusan untuk melakukan sejumlah kerja baik pada sisi arkeologi dengan melakukan ekskavasi, eksplorasi termasuk penggalian dari para ahli dan proses rekontruksi atau pembangunan ulang agar bangunan benteng beserta bangunan lainnya yang menjadi isi Situs Biting bisa terwujud.
Langkah ini memang bukan pekerjaan mudah, mengingat mesti melakukan kerjasama lintas sektor baik melibatkan pemerintah daerah Kabupaten Lumajang, Pemprov Jatim serta Pemerintah Pusat bila menginginkan keberadaan situs benteng yang sangat luas sebesar 135 Ha itu bisa diketengahkan kembali ke hadapan public. Karena bila hal ini hanya dikerjakan dengan level Pemkab Lumajang yang memiliki keterbatasan dan maka otomatis kerja itu akan memakan waktu relatif lama.
Meski demikian, Pemkab Lumajang sebagai pemangku kepentingan daerah telah berbuat relatif banyak, dengan menjadikan kawasan Situs Biting sebagai cagar budaya local dan dalam rentang pendek akan mendirikan museum Situs Biting. Hal ini secara khusus diegaskan langsung oleh Bupati Lumajang Sjahrozad Masdar saat menerima kunjungan rombongan wartawan Pokja Pemprov Jatim dalam rangka presstour pada 21-22 September 2013.
Kesadaran secara kolektif dari pemangku kebijakan dari level lokal hingga pusat menjadi kebutuhan yang niscaya bila menginginkan agar Situs Biting menjadi Kawasan Konservasi cagar Budaya berlevel Nasional
Dukungan masyarakat menjadi penting apalagi kini telah bermunculan seperti keberadaan lembaga swadaya masyarakat yang memberikan advokasi Situs Biting yaitu Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur) dan Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL) yang berdiri pada 2010 lalu.
Karena bagaimana pun keberadaan situs Biting kini juga terdesak dengan keberadaan pengembangan pemukiman yang dilakukan oleh Perum Perumahan Nasional yang berada tidak jauh dari lokasi Situs Biting ditemukan. Bahkan, ada yang berada di areal perumahan warga yang kini telah dikembangkan dengan luas 15 hektare.
Kerusakan benda-benda terkait situs Biting juga semakin terjadi bila langkah konkrit penyelamatan secara simultan dari para pemangku kebijakan lintas sektor tidak kunjung terjadi.
Toh ada harapan cerah, terkait mulai tanggapnya serta seriusnya Pemerintah Pusat dalam menangani situs-situs di Indonesia. Setidaknya contoh baik itu muncul dari adanya upaya penelusuran arkeologi Situs Gunung Padang di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Seperti diketahui Pemerintah secara khusus telah membentuk tim peneliti mandiri yang melibatkan sejumlah pakar untuk melakukan eksplorasi situs Gunung Padang. Tim itu dipimpin oleh  Prof. Danny Hilman Natawidjaja yang berupaya mengungkap atas dasar hipotesa awal bahwa situs Gunung Padang berumur 13.000 Sebelum Masehi atau lebih tua dari peradapan kuno dunia yang diketahui dari literature umum yaitu Mesir dan Mesopotamia hanya berumur kisaran 6.000 SM.
Keseriusan pemerintah melalui Sekretariat Negara itu perlu menjadi pendorong guna melakukan hal yang sama di Situs Biting.
Semoga saja keinginan untuk mewariskan bangunan benteng beserta isinya yang terkait dengan Situs Biting dan Kerajaan Lamajang Kidang Tigang Juru yang sekaligus juga menunjukkan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Majapahit pada kontek lainnya bisa segera terwujud.